By Hermanus E.R.
Bulan Januari 2020 mendatang, Gerakan Credit Union di Indonesia genap berusia 50 tahun. Membuka kembali catatan sejarah lahir Gerakan Credit Union atau Koperasi Kredit di
Indonesia, Kota Bandung ternyata menyimpan sejumlah kenangan yang sangat
berarti bagi perkembangan Gerakan Credit Union (CU) selanjutnya. Umumnya, para pegiat/penggerak
CU hanya tahu bahwa CU Primer pertama di Indonesia, lahir di Kota Bandung, yaitu
CU Kamuning yang didirikan oleh umat Paroki Kamuning. Padahal, sejarah mencatat
lebih dari itu. Kota Bandung bersama Delegatus Sosial (Delsos) Keuskupan
Bandung memainkan peranan yang sangat berarti.
Jauh sebelum CUCO lahir pada 4 Januari 1970 yang
menandai dimulainya Gerakan CU di Indonesia, beberapa kegiatan seperti diskusi,
seminar, dan lokakarya tentang CU sudah dilaksanakan di Kota Bandung. Tahun
1966, Pastor John Dijkstra, SJ. selaku Ketua Komisi Delegatus Sosial, Majelis
Wali Gereja Indonesia (MAWI) melakukan pertemuan dengan Delsos Keuskupan
Bandung untuk mendiskusikan ide tentang CU yang dinilai cocok diterapkan di
Indonesia. Pada tahun 1968, diadakan seminar untuk memperkenalkan CU yang bertempat
di Gereja Santo Mikael, Jalan Waringin Bandung. Seminar ini diselenggarakan
oleh Delegatus Sosial Keuskupan Bandung dan dihadiri oleh banyak pastor. Masih
di tahun yang sama, tepatnya pada bulan November 1968, sebuah Lokakarya Pengembangan
Sosial Ekonomi juga diselenggarakan di Bandung, bertempat di Aula Susteran
Santa Angela, Jalan Merdeka. Salah satu materi dalam lokakarya tersebut adalah tentang
Credit Union. Lokakarya ini dihadiri oleh para Delegatus Sosial (Delsos) dari
semua keuskupan. Lokakarya ini dinilai sebagai peristiwa penting dalam sejarah
CU di Indonesia karena dalam lokakarya ini untuk pertama kali secara resmi CU
diperkenalkan kepada para Delsos. Dari sini muncul keseriusan untuk
memperkenalkan dan mengembangkan CU kepada masyarakat Indonesia. Seminar
tentang CU pun terus berlanjut. Di pertengahan tahun 1969, sebuah seminar untuk
menindaklanjuti Lokakarya Bandung November 1968 diadakan di Sukabumi, Jawa
Barat. Dan pada 1970, sebuah seminar tentang CU kembali diadakan di Gereja
Santo Mikael Bandung. Dalam seminar ini, General Manager ACCU, Mrs. Augustine
J. Kang menjadi nara sumber dan Robby Tulus menerjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia.
Sejarah bertutur, kehadiran CU di Indonesia bermula
dari inisiatif Gereja Katolik yang menyambut gagasan para Jesuit di Asia yang
terus mendorong tumbuh kembang CU di kawasan Asia termasuk Indonesia melalui
organisasi yang bernama SELA (Sosio
Economic Life in Asia). Saat itu di Asia jumlah manusia miskin jauh di atas
manusia yang tidak miskin. Dalam diskusi dengan wakil dari WOCCU dan ACCU pada
tahun 1968, MAWI mendorong CU menjadi wadah dan sarana pengentasan kaum
marginal di Indonesia. Catatan sejarah jelas memperlihatkan peran Gereja
Katolik yang sangat strategis dalam merintis dan menumbuhkan dan mengembangkan
gerakan CU di Indonesia melalui Komisi Delegatus Sosial baik di tingkat MAWI
maupun di tingkat Keuskupan. Dan Kota Bandung menjadi kota yang istimewa karena
dari kota inilah diskusi, seminar, dan lokakarya diadakan untuk memperkenalkan
gerakan CU kepada seluruh Delsos se-Indonesia.
Berangkat
dari sejarah inilah, Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Bandung
melalui Unit Lembaga Keuangan Mikro (LKM) menggagas Perayaan 50 Tahun Gerakan
Koperasi Kredit Indonesia (GKKI). Peringatan ini diharapkan mampu menjawab dua
pertanyaan besar, yaitu,”Quo Vadis GKKI Setelah 50 Tahun?”
dan “Sejauh
mana kesiapan CU menghadapi tantangan di era milenial?” Melalui dan di
dalam kegiatan Perayaan 50 Tahun GKKI tersebut, kita akan menemukan jawabannya.
Perubahan Rencana
Perayaan 50 Tahun GKKI sedianya akan diawali pada Juli 2019 hingga Juni 2020, namun karena kendala jumlah personil dan diperlukan persiapan yang sangat matang maka rencana perayaan tersebut ditunda di tahun 2020. Perkembangan lain yang muncul dan ikut mempengaruhi rencana tersebut adalah rencana Inkopdit akan mengadakan hal yang sama bahkan dalam skala yang sangat besar mirip rapat akbar di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Informasi ini diperoleh dari bapak Abat Elias, salah seorang pengurus Inkopdit dalam suatu kesempatan belum lama ini. Beliau menyarankan agar kegiatan perayaan 50 tahun sebaiknya terpusat di Inkopdit. Saran beliau telah disampaikan kepada Ketua Komisi PSE Keuskupan Bandung, Rm. Thomas Sunarto, Pr. untuk dikoordinasikan ulang.
Mungkin perayaan dalam skala kecil tetap diadakan tanpa mengurangi tujuan dan manfaatnya, yaitu agar para pegiat/penggerak CU di lingkup Keuskupan Bandung memperoleh penyegaran kembali tentang latar belakang sejarah lahir dan perkembangan CU, mengapa gereja katolik menjadikan CU sebagai wadah sekaligus sarana pengentasan kemiskinan di Indonesia, bagaimana CU mengembangkan program-program pemberdayaan komunitas, model CU yang memberdayakan, hingga tantangan CU dalam mengembangkan program-program yang mampu membangun minat kaum milenial untuk bergabung sebagai anggota CU.
Kerja Bersama
Rencana perayaan 50 tahun yang digagas oleh Komisi PSE hendaknya juga menjadi gerakan bersama. Dari, oleh dan untuk kita. Manfaatnya kita petik bersama. Bersama-sama kita hadapi tantangan ke depan: fintek & tekfin, pinjaman online, kaum milenial, serta tantangan membangun komunitas CU di wilayah perkotaan. Kebersamaan di dalam Forum Credit Union (Forum CU) Keuskupan Bandung adalah modal bersama. Forum tersebut bisa dimaksimal sebagai wadah sekaligus sarana untuk berdialog, berdiskusi, mengadakan lokakarya dan seminar untuk mendapatkan solusi menghadapi tantangan masa depan. Kita adalah keluarga besar, satu dengan yang lain bukanlah pesaing. Kita mengemban misi yang sama: improve lives of people. Karenanya perlu bekerja bersama-sama menghadapi tantangan bersama-sama. Semoga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar