By Hermanus E.R.
BANDUNG – Hari-hari belakangan
ini, teman-teman di Gerakan CU Keuskupan Bandung hangat membicarakan Access
Branding. Pasalnya, topik Access Branding menjadi oleh-oleh dari Pekan
Studi LKM di Tana Toraja Sulawesi Selatan. Kegiatan studi tersebut diselenggarakan
oleh Komisi PSE KWI di Credit Union Sauan Sibarrung (CUSS), 9 - 13 Juli 2019 yang lalu. Ketua Komisi PSE Keuskupan Bandung, Rm.
Thomas Sunarto, Pr. ikut dalam acara tersebut bersama Heru Maryanto dari Unit Lembaga
Keuangan Mikro (LKM). Keduanya memaparkan hasil studinya dalam acara Forum CU
Keuskupan Bandung pada Rabu, 11 September 2019. Dalam pemaparan tersebut, disinggung mengenai rencana
Komisi PSE KWI menerapkan model ACCESS sebagai standar pengembangan CU di semua keuskupan. Saat
diminta tanggapannya, pendapat para peserta tentang Access Branding sangat
beragam. Mulai dari minimnya pengetahuan dan
informasi sampai ketersediaan sumber daya manusia yang benar-benar siap
mengimplementasi standar tersebut.
Access
Branding diperkenalkan pertama kali oleh
Rm. Fredy Rante Taruk, Pr. kepada para pegiat/penggerak CU di lingkup PSE Regio
Jawa dalam studi Perencanaan Strategis untuk Credit Union yang berlangsung di
Wisma Syanti Lawang – Malang, 29 September hingga 2 Oktober 2016. Di sini para
peserta termasuk 11 orang dari Keuskupan Bandung, belajar tentang model
perencanaan strategis berbasis Access Branding yang menggunakan pendekatan Balanced Scorecard (BSC). Access
Branding mulai diimplementasi dalam Gerakan Credit Union di Asia
sekitar tahun 2006 setelah melalui proses penyusunan selama hampir 3 tahun
(2003-2005). Bersama 45 mitra CU/Kopdit
dari 3 negara yang ikut
bekerjasama dalam proses penyusunan, ACCU berkesimpulan bahwa perlu ada standar
agar pengoperasian CU/Kopdit dilakukan secara profesional sehingga membuahkan
keunggulan pelayanan dan ketangguhan finansial.
ACCESS: A-1 Competitive Choice for Excellence in
Service and Soundness adalah pilihan kompetitif A-1 untuk keunggulan
layanan dan kekuatan, disusun berdasarkan Balanced
Scorecard (Kartu Skor Berimbang) dan mengadopsi 4 perspektif yang digunakan
sebagai acuan tata kelola sekaligus untuk menilai kualitas sebuah CU.
1. Perspektif
Keuangan, diarahkan kepada keamanan (safety) dan kesehatan (soundness) CU. Diukur berdasarkan nilai
dari tindakan ekonomi yang telah dilakukan. Ukuran kinerja keuangan ini akan
menunjukan apakah strategi, implementasi, dan eksekusi berkontribusi pada keamanan dan kesehatan CU. Dalam
perspektif ini ada 13 indikator yang diukur/dinilai.
2. Perspektif
Anggota-Pelanggan, ukuran utama dalam perspektif ini
adalah kepuasan anggota selaku pemilik (member-owner)
sekaligus pengguna jasa (user), serta
produk dan pelayanan berkualitas (quality
product and service). Produk dan pelayanan yang berkualitas diukur
berdasarkan seberapa bagus produk dan pelayanan CU dapat membantu meningkatkan
kualitas hidup dan tujuan keuangan para anggota. Di sini ada
27 indikator yang diukur.
3. Perspektif
Bisnis Internal, mengukur keunggulan proses internal
agar organisasi CU menjadi unggul. Proses ini memungkinkan CU menyampaikan
nilai yang menarik dan mempertahankan anggotanya. Hal ini akan memiliki dampak
besar pada kepuasan anggota dan pencapaian sasaran keuangan CU. Dalam hal ini,
terdapat 2 ukuran kinerja, yaitu efisiensi operasional dan posisi bersaing. Jumlah
indikator pada perspektif ini ada 26.
4. Perspektif
Pembelajaran dan Pertumbuhan, yang mengidentifikasi infrastruktur
yang dapat membantu peningkatan pertumbuhan jangka panjang. Dalam perspektif
ini, 2 hal penting yang menjadi ukuran atas kinerja adalah pengurus yang
berpengetahuan yang terlibat
aktif dan kepuasan
pegawai/karyawan. Juga diukur kapasitas CU dalam menyediakan ketrampilan yang
tepat bagi pengurus dan pegawai, memadukan prosedur dan kebijakan sumber daya.
Ini semua untuk memastikan bahwa seluruh jajaran pengurus dan pegawai telah mendapat ketrampilan
yang memadai untuk mengelola lingkungan baru CU. Dalam
perspektif ini ada 20 indikator yang diukur/dinilai.
Dari keempat perspektif tersebut di atas, total ada 86
indikator yang digunakan untuk menilai kualitas sebuah CU. Jika CU primer
berhasil memenuhi standar ACCESS maka bisa mendapatkan salah satu dari keempat
kategori, yaitu bronze, silver, gold,
atau platinum. Dalam kurun waktu 50
tahun gerakan CU di Indonesia, baru ada 1 CU yang berhasil meraih predikat
ACCESS Branding, yaitu CU Sauan Sibarrung yang pada tahun 2017 mendapat
kategori bronze dan pada tahun 2018 meraih kategori silver.
Pembelajaran
di Lawang menekankan pentingnya Perencanaan
Strategis sebagai peta jalan (road map)
agar CU dapat sampai pada tujuan yang telah ditetapkan. CU yang tidak memiliki
peta jalan ibarat kapal yang berlayar tanpa arah. Oleh karena itu, pengurus
memikul tanggung jawab dalam menetapkan arah strategis di Credit Union serta
menentukan langkah-langkah strateginya. Dalam
proses perencanaan strategis di CU, pengurus terlebih dahulu menetapkan kondisi
saat ini (present state) dan kemudian
menetapkan ke mana CU akan dibawa. Dengan kata lain, mau jadi seperti apa CU
kita nanti (desire state). Sesuai dengan
fungsinya sebagai alat diagnosis sekaligus sebagai panduan cita-cita CU, Access
Branding membantu mendiagnosis kondisi CU anda saat ini sekaligus membantu
menetapkan cita-cita CU anda di masa depan.
Berulang
kali Romo Fredy menekankan bahwa CU tidak boleh diurus menurut maunya pengurus
atau maunya manajer. Ada standar tata kelola yang harus diikuti jika CU-nya mau
disebut CU. Mengawali pelatihan CUDCC di Lembang tahun 2018 lalu, Romo Fredy melemparkan
pertanyaan yang menggelitik dan mengundang tawa,” Kita mau bicara CU yang mana?
CU menurut bapak ibu pengurus/pengelola atau CU Raiffeisen?” Lebih lanjut Romo
Fredy mengatakan bahwa di Indonesia ada banyak macam CU dengan misi yang
berbeda-beda pula. Oleh karena itu, dalam pelatihan di Lembang tersebut, Romo
Fredy menekankan bahwa
yang akan dipelajari selama pelatihan ini adalah CU Raiffeisen.
Menerapkan standar ACCESS tidaklah mudah. Munaldus,
aktivis dan penulis buku menyebut Access Branding sebagai manajemen tingkat
tinggi atau manajemen modern. Model pengembangan CU menggunakan BSC lebih rumit
dari yang pernah dipelajarinya sebelumnya. Namun, rumit tidak berarti tidak
bisa. Butuh komitmen penuh dari seluruh stakeholder
termasuk komitmen untuk kembali ke misi Raiffeisen. Karena dari misi itulah titik acuan untuk mengembangkan
CU yang memberdayakan, yang mengurus manusia. Di Keuskupan Bandung sudah ada 2
CU yang mulai menerapkan standar Access, KKMS dan CU KWB. Meskipun menghadapi
berbagai kendala, kedua CU tersebut telah memulai langkah pertama menuju CU
Raiffeisen. KKMS misalnya, mencoba bersikap realistis yaitu menetapkan waktu 10
tahun (2019-2028) untuk memenuhi 86 indikator dengan predikat excellent baru kemudian mengajukan
penilaian dari lembaga ACCESS. Semoga kerja keras dan dukungan dari semua pihak
berhasil membawa kedua CU tersebut memenuhi standar dan meraih predikat dari
lembaga ACCESS. Dan semoga ada lagi CU primer yang mengikuti jejak kedua CU
tersebut. Semoga.
kegiatan yang menginspirasikan. Di Toraja, saya ikut juga.
BalasHapus